Uncategorized

Sejarah Sepak Bola Indonesia

Awalnya, formasi ini berasal dari Inggris dan terus menyebar luas hingga seluruh penjuru dunia. Pertama, Anda tidak akan mungkin selalu dalam posisi menyerang di setiap pertandingan — kecuali musuh Anda tidak diperbolehkan memegang stik. Kedua, memahami setiap trik bertahan juga akan berguna saat menyerang.

Inilah yang membuat Putu Gede justru lebih leluasa naik ke depan. Saat pemain di depannya (Wawan) rajin bergerak ke dalam, ia sering mendapatkan ruang kosong di sepertiga akhir lapangan dan membuatnya punya ruang yang lapang untuk mengirim umpan silang. Anthony memanfaatkan kelengahan bek kanan Brunei yang terpancing bergerak ke dalam, sehingga ia leluasa mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti yang berhasil dilanjutkan oleh Muchlis menjadi gol. Sisi sayap yang dieksploitasi Indonesia pun menghadirkan celah di depan kotak penalti. Pasalnya, para pemain bertahan Brunei terpancing untuk terus menganstipasi serangan sayap.

Mungkin, buat sebagian orang, mengandalkan gol dari tendangan bebas ataupun tendangan pojok memang terlalu sulit dilakukan. Namun demikian, eksekusi bola mati bukan berarti tidak bisa dipelajari ataupun disiasati.

Di sanalah para pemain sayap seringkali memberikan operan ke depan kotak penalti di mana Adam Alis berkali-kali melakukan tembakan dari luar kotak penalti. Rapatnya lini pertahanan Brunei pun dikarenakan Anthony kurang aktif dalam bergerak untuk membuka ruang. Penyerang milik Barito Putera ini hanya beroperasi di area kotak penalti. Tiga bek tengah Brunei pun bisa membentuk pertahanan kokoh karena tak harus meninggalkan posisinya masing-masing. Dalam formasi ini, seorang penyerang juga perlu bergerak cepat sehingga setiap kesempatan yang tersedia dapat digunakan untuk mencetak gol.

Dalam formasi ini, pemain biasanya juga harus menendang dengan keras sehingga kiper tidak dapat menahannya, tetapi juga tidak terlalu sering supaya tidak mudah ditebak. Bahkan juga Formasi ini lebih cenderung mengandalkan satu penyerang handal di depan, yang juga dapat dengan mudah menciptakan gol-gol krusial dengan dibantu oleh second striker sebagai serangan bayangan. formasi sering kali digunakan oleh Kesebalasan Nigeria, Kamerun dan Juga Afrika Selatan. Meski formasi ini sulit eksis pada era milenium, tapi sejatinya kerap hadir di tengah pertandingan ketika sebuah tim dituntut untuk mencetak gol pada sisa waktu. Dengan konsep ini tentunya peluang mencetak gol pada gawang lawan akan semakin besar pula.